Senin, 23 Juli 2012

Gizi buruk




A.    Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita.
B.     Penyebab Gizi Buruk
Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk. Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu :
1.      Kurangnya asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan.
2.      Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.
Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu:
1.      Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat
2.   Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan asuh anak
3.      Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab gizi buruk pada balita, yaitu:
1.   Keluarga miskin
2.   Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak
3.    Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran       pernapasan dan diare.

C.     Tipe Gizi Buruk

Tipe gizi buruk terbagi menjadi tiga tipe yaitu Kwasiorkor, Marasmus dan Marasmic-Kwashiorkor.

Ø  Kwasiorkor

Kwasiorkor memiliki ciri-ciri:
1.      Edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab
2.      Pandangan mata sayu
3.      Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok
4.      Terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel
5.      Terjadi pembesaran hati
6.      Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
7.      Terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis)
8.      Sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut
9.      Anemia dan diare.

Ø  Marasmus

Marasmus memiliki ciri-ciri:
1.      Badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit
2.      Wajah seperti orang tua
3.      Mudah menangis/cengeng dan rewel
4.      Kulit menjadi keriput
5.      Jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar)
6.      Perut cekung, dan iga gambang
7.      Seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang)
8.      Diare kronik atau konstipasi (susah buang air).

Ø  Marasmic-Kwashiorkor

Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok, seperti :

1.      Berat badan penderita hanya berkisar di angka 60% dari berat normal. Gejala khas kedua penyakit tersebut nampak jelas, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit dan sebagainya.
2.      Tubuh mengandung lebih banyak cairan, karena berkurangnya lemak dan otot.
3.      Kalium dalam tubuh menurun drastis sehingga menyebabkan gangguan metabolik seperti gangguan pada ginjal dan pankreas.
4.      Mineral lain dalam tubuh pun mengalami gangguan, seperti meningkatnya kadar natrium dan fosfor inorganik serta menurunnya kadar magnesium.

D.    Akibat,  Pencegahan dan Pengobatan Gizi Buruk

 Akibat Gizi Buruk
1.    Menyebabkan kematian bila tidak segera ditanggulangi oleh tenaga kesehatan.
2.    Kurang cerdas.
3.    Berat dan tinggi badan pada umur dewasa lebih rendah dari normal.
4.    Sering sakit infeksi seperti batuk,pilek,diare,TBC,dan lain-lain.

 Pencegahan gizi buruk
1.      Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
2.      Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
3.      Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter.
4.      Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.
5.      Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.

Pengobatan gizi buruk
1.      Pada stadium ringan dengan perbaikan gizi.
2.      Pengobatan pada stadium berat cenderung lebih kompleks karena masing-masing penyakit harus diobati satu persatu. Penderitapun sebaiknya dirawat di Rumah Sakit untuk mendapat perhatian medis secara penuh.






                                         



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemuliaan Tanaman

Sejarah Perkembangan Pemuliaan Tanaman             Bangsa Assyrians dan Babylonian pada permulaan tahun 700 sebelum masehi, telah mela...