Rabu, 18 Juli 2012

kondisi, kesesuaian tanaman di kec bombana





AGROKLIMATOLOGI
GAMBARAN KONDISI IKLIM DAN KESESUAIAN TANAMAN YANG DIKEMBANGKAN DI KECAMATAN KABAENA TENGAH
KABUPATEN BOMBANA



JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya lah, sehingga penulis masih diberi kesehatan, dan kekuatan, untuk dapat menyelesaikan makalah Agroklimatologi ini.
Makalah Agroklimatologi yang berjudul Gambaran Kondisi Iklim dan Kesesuaian Tanaman Yang Di Kembangkan Di Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana”,  disusun berdasarkan hasil data curah hujan dan dibahas dengan didukung oleh literatur-literatur pendukung yang relevan.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini, masih sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang besifat membangun sangat diharapkan untuk kesempurnaan penyusunan selanjutnya.
Proses penyusunan karya tulis ilmiah ini melibatkan berbagai pihak, oleh karena itu sudah sepantasnya penulis dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati mengucapkan banyak terima kasih.
Akhir kata, penulis berharap agar makalah ini dapat berguna bagi para pembaca dalam menambah pengetahuan amin.

Kendari,      Desember 2011
                                                                 
                                                                                                                Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Iklim merupakan salah satu komponen ekosistem alam, sehingga kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim. Iklim muncul setelah berlangsung suatu proses fisik dan dinamis yang kompleks yang terjadi di atmosfer bumi.
Membahas mengenai cuaca atau iklim tidak akan lepas dari hubungan /interaksi antara daratan, lautan maupun udara di wilayah tersebut. Pola pergerakan semu matahari merupakan suatu sumber energi pembentuk cuaca atau iklim yang berbeda di wilayah tropis, subtropis dan kutub. Pola pergerakan semu matahari pada lintang yang berbeda membawa pengaruh terhadap jumlah energi yang diterima oleh wilayah-wilayah di permukaan bumi. Hal ini menyebabkan adanya interaksi antara daratan, lautan maupun udara. Pembahasan mengenai interaksi antara daratan, lautan dan udara serta pengaruhnya merupakan suatu kajian yang menarik untuk memprediksi cuaca/iklim
Iklim di Indonesia yang secara geografis merupakan benua maritime dicirikan oleh keragaman curah hujan yang cukup besar antar daerah. Selain mendapat pengaruh dari sirkulasi udara pada skala global maupun regional, pembentukan awan dan hujan di Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi lokal, seperti topografi dan suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Disini terlihat bahwa Indonesia merupakan satu kawasan daerah tropis yang unik dimana dinamika atmosfernya dipengaruhi oleh kehadiran angin pasat, aliran angin monsunal, iklim marine dan pengaruh berbagai kondisi lokal. Cuaca dan iklim di Indonesia mempunyai karakteristik khusus yang hingga kini mekanisme proses pembentukannya belum banyak diketahui.
Iklim dapat didefinisikan sebagai ukuran statistik cuaca untuk jangka waktu tertentu dan cuaca menyatakan status atmosfer pada sembarang waktu tertentu. Dua unsur utama iklim adalah suhu dan curah hujan. Indonesia sebagai daerah tropis ekuatorial mempunyai variasi suhu yang kecil, sementara variasi curah hujannya cukup besar. Oleh karena itu curah hujan merupakan unsur iklim yang paling sering diamati dibandingkan dengan suhu.

B.     Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari makalah ini yaitu agar para mahasiswa dapat mengetahui gambaran kondisi iklim dan kesesuaian tanaman yang dikembangkan dikecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana.
Manfaat dari makalah ini yaitu untuk dapat mengetahui gambaran kondisi iklim dan kesesuaian tanaman yang dikembangkan dikecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana.



BAB II
TINJAUANPUSTAKA

Unsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Susandi, 2004).
Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian.
Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat (altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul, karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian. Kadaan suhu yang demikian tersebut membuat para ahli membagi klasifikasi suhu di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.
Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama. Adanya hubungan sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim, (Tjasyono, 2004)
Indonesia merupakan daerah yang curah hujannya sangat dipengaruhi oleh sirkulasi monsun (monsoon). Monsun merupakan angin musiman yang disebabkan oleh pengaruh pemanasan dan tekanan udara yang berbeda-beda antara benua (daratan) dan lautan yang ada di sekitarnya serta selalu berubah pada setiap musim. Pada saat benua mengalami musim panas maka sirkulasi udara akan bergerak dari lautan menuju benua dan sebaliknya sirkulasi udara akan bergerak menuju lautan saat benua mengalami musim dingin. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya variabilitas musim basah dan musim kering di Indonesia. Bulan Mei sampai Bulan September, Indonesia didominasi oleh munson Australia yang memberikan kelembaban yang rendah sehingga tercipta musim kering, sedangkan pada saat bulan November sampai Bulan Maret lebih didominasi oleh munson Asia yang lembab sehingga tercipta musim basah di Indonesia. Akibat dari pola hujan munson, puncak curah hujan di daerah penelitian juga terjadi pada masa DJF, (Tjasyono, dalam Irianto, dkk., 2000).

Sebagaimana diketahui bersama hampir sebagian besar wilayah permukaan bumi ini (sekitar 70%) diselimuti oleh lautan, dan sisanya oleh daratan. Dengan kata lain, airlah yang ternyata mendominasi planet kita yang satu-satunya ini. Indonesia merupakan suatu negara dengan luasan perairan relatif cukup besar yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan atmosfer di daerah khatulistiwa lainnya yang kita kenal sebagai Indonesia Maritime Continent (IMC) atau lebih dikenal dengan istilah “Benua Maritim Indonesia” (BMI). Hal ini disebabkan letak geografisnya yang unik, yakni diapit oleh dua benua besar (Asia dan Australia) dan dua samudera besar (Hindia dan Pasifik). Konsekwensinya, kawasan ini dianggap sebagai salah satu kawasan penting dunia sebagai penyimpan bahang (panas) terbesar bagi pembentukan awan-awan cumulonimbus (Hermawan, 2003).
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumber energi yang melimpah dan bermacam-macam termasuk minyak bumi, gas bumi, batubara, tenaga air dan panas bumi. Sumber energi tersebut tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik namun juga cukup untuk kebutuhan ekspor (Biro Pusat statistik, 1992). Diperkirakan,Indonesia memiliki cadangan energi fosil yang dapat digunakan hingga 5000 tahun ke depan untuk batubara yang banyak ditemukan di Kalimantan dan Sumatra, 40 tahun ke depan untuk gas alam, dan 20 tahun ke depan untuk energi minyak bumi. Peningkatan pertumbuhan penduduk yang pesat, industrialisasi, perubahan struktur produksi dan laju pertumbuhan ekonomi serta jumlah kendaraan bermotor yang terus bertambah membawa Indonesia pada pertumbuhan pemakaian energi yang tinggi. Emisi gas buang yang berasal dari kendaraan bermotor, industri maupun rumah tangga mengandung gas karbon dioksida, metan dan nitro oksida yang menyebabkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Peningkatan GRK tersebut akan mengakibatkan naiknya temperatur rata-rata permukaan bumi yang disebut dengan pemanasan global. Karena temperatur merupakan salah satu dari parameter iklim, maka peningkatan suhu rata-rata bumi tersebut berpengaruh terhadap perubahan iklim secara global, (World Bank, 1994).


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil
Hasil dari makalah ini yaitu sebagai berikut:
Tabel hasil curah hujan tahun 2008, 2009, dan 2010 dikecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana.
BULAN
2008
2009
2010
RATA-RATA BULANAN
Januari
152
161
105
139
Februari
142
140
148
331
Maret
172
162
264
199
April
201
204
103
169
Mei
152
154
174
364
Juni
201
200
176
459
Juli
10
9
71
42
Agustus
_
_
32
10
September
_
_
21
7
Oktober
_
_
89
29
Nopember
22
19
97
73
Desember
132
152
120
324
RATA-RATA TAHUN
98,6
100
116








B.     Pembahasan
Iklim merupakan salah satu komponen ekosistem alam, sehingga kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim. Iklim muncul setelah berlangsung suatu proses fisik dan dinamis yang kompleks yang terjadi di atmosfer bumi. Iklim dapat didefinisikan sebagai ukuran statistik cuaca untuk jangka waktu tertentu dan cuaca menyatakan status atmosfer pada sembarang waktu tertentu. Dua unsur utama iklim adalah suhu dan curah hujan. Indonesia sebagai daerah tropis ekuatorial mempunyai variasi suhu yang kecil, sementara variasi curah hujannya cukup besar. Oleh karena itu curah hujan merupakan unsur iklim yang paling sering diamati dibandingkan dengan suhu.
Jumlah curah hujan di Kecamatan Kabaena Tengah tiap bulan selama tahun 2008 dapat dilihat bahwa curah hujan tertinggi terjadi dua kali dalam tahun 2008, yaitu bulan April dan Juni dengan curah hujan masing sebesar 201 mm.
Dapat dilihat juga bahwa hujan tidak terjadi pada bulan Agustus hingga bulan Oktober, sehingga dapat dikatakan bahwa curah hujan dalam waktu tiga bulan tersebut merupakan yang terendah, seperti yang telah kita ketahui, priode bulan tersebut adalah musim kemarau sehingga sangat wajar jika pada bulan itu tidak terjadi hujan.
Jumlah curah hujan tertinggi terjadi dua kali dalam tahun 2009, yaitu pada bulan April dan Juni dengan curah hujan masing-masing sebesar 204 mm dan 200 mm.
Dapat dilihat juga bahwa hujan tidak terjadi pada bulan Agustus hingga bulan Oktober, sehingga dapat dikatakan bahwa curah hujan dalam waktu tiga bulan tersebut merupakan yang terendah, seperti yang telah kita ketahui, priode bulan tersebut adalah musim kemarau sehingga sangat wajar jika pada bulan itu tidak terjadi hujan.
Jumlah curah hujan di kecamatan Kabaena Tengah tiap bulan selama 2010 disajikan dalam tabel. Dapat dilihat bahwa curah hujan terbesar terjadi pada bulan Maret dengan curah hujan sebesar 264 mm3 dan terendah pada bulan September dengan curah hujan sebesar 21 mm3 ini menunjukkan bahwa bulan Maret puncak musim penghujan di seluruh wilayah Indonesia termasuk Kecamatan Kabaena Tengah. Dapat dilihat juga bahwa rendahnya curah hujan pada bulan September menunjukkan pada bulan tersebut telah mendekati musim kemarau biasa terjadi pada bulan Oktober.
Sehingga tanaman yang cocok dan yang baik untuk dikembangkan pada daerah ini yaitu padi ladang dan jagung, sedangkan pada sub sektor perkebunan,  yang paling besar adalah jambu mete, selain dari itu tanaman perkebunan yang ada di kecamatan Kabaena Tengah adalah enau, kelapa, kopi, ubi kayu, kelapa hibrida dan lada.

Tipe iklim di Kecamatan Kabaena Teengah dapat dikelompokan menurut para ahli diantaranya yaitu berdasarakan curah hujan yang terjadi maka menurut Koppen, Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana beriklim A, dimana iklim A yang dimaksud yaitu iklim hujan tropis, dengan ciri temperatur bulanan rata-rata lebih dari 18 oC, suhu tahunan 20 oC – 25 oC dengan curah hujan bulanan lebih dari 60 mm. Smidth-fergusson menyimpulkan bahwa Kecamata Kabaena Tengah Kabupaten Bombana tergolong tipe iklim C. menurut Mohr menyimpulkan bahwa Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana tergolong tipe iklim IV. Menurut Oldeman, menyimpulkan bahwa kecamatan Kabaena Tengah kabupaten  Bombana tergolong tipe iklim B3 karena rata-rata bulan basah yang   berada di kisaran >100 mm3 dan untuk bulan    kering dimana bulan kering ini terjadi dengan rata-rata < 100mm3.
 

BAB IV
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan pada makalah ini yaitu sebagai berikut:
·         Kondisi iklim pada kecamatan Kabaena Tengah selama tahun 2008, 2009, dan 2010 tidak merata yaitu pada tahun 2008 curah hujan yang tertinggi pada bulan April dan Juni, sedangkan bulan kering tidak terjadi hujan pada bulan Agustus, September, dan oktober. Pada tahun 2009 curah hujan yang tertinggi yaitu pada bulan April dan Juni, sedangkan bulan kering atau tidak terjadi hujan yaitu pada bulan Agustus, September, dan Oktober. Dan pada tahun 2010 curah hujan yang tertinggi yaitu pada bulan Maret dan terendah pada bulan september.
·         Tanaman yang sesuai untuk kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana yaitu padi ladang dan jagung.
·         Tipe iklim menurut
1.      Koppen
Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana beriklim A, dimana iklim A yang dimaksud yaitu iklim hujan tropis, dengan ciri temperatur bulanan rata-rata lebih dari 18 oC, suhu tahunan 20 oC – 25 oC dengan curah hujan bulanan lebih dari 60 mm.
2.      Schmidth-Fergusson
Kecamata Kabaena Tengah Kabupaten Bombana tergolong tipe iklim C.
3.      Mohr
Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana tergolong tipe iklim IV.
4.      Oldeman
Kecamatan Kabaena Tengah kabupaten  Bombana tergolong tipe iklim B3 karena rata-rata bulan basah yang berada di kisaran >200 mm3 dan untuk bulan kering dimana bulan kering ini terjadi dengan rata-rata < 100mm3.
DAFTAR PUSTAKA

Biro Pusat Statistik, Statistik Lingkungan Hidup Indonesia, 127-132, 1992.
Hermawan, Eddy. 2003. The Characteristics of Indian Ocean Dipole Mode Premiliminary Study of the Monsoon Variability in the Western Part of Indonesian Region. Jurnal Sains Dirgantara,Vol. 1 No.1 Desember 2003. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( LAPAN ). Jakarta.
Susandi, A. 2004. The impact of international greenhouse gas emissions reduction on Indonesia. Report on Earth System Science, Max Planck Institute for Meteorology, Jerman.
Tjasyono, Bayong. 2000. Klimatologi Umum. Penerbit ITB Bandung.
2004. Klimatologi Umum. Penerbit ITB Bandung.
World Bank, Indonesia Environment and Development, a World Bank Country Study, Washington D.C. : 63, 1994.

Pemuliaan Tanaman

Sejarah Perkembangan Pemuliaan Tanaman             Bangsa Assyrians dan Babylonian pada permulaan tahun 700 sebelum masehi, telah mela...